Banyak Nilai Jual di Lumajang, mengapa hanya dikenal sebatas itu-itu saja ?

259

Kota Lumajang yang terletak di Propinsi Jawa Timur boleh dikatakan merupakan Kota yang memiliki banyak nilai jual Sosial, Budaya dan Pariwisata.
Dari segi Pariwisata, Kota ini memiliki wisata Gunung (Semeru, Bromo, Lamong dan banyak gunung-gunung kecil/ Bukit-bukit. Sedangkan dari sisi Religi, Lumajang bahkan merupakan kiblat bagi Hindu Bali, selain itu di Lumajang merupakan Kota tua yang terlupakan,
Penemuan arkeologis yang berupa penemuan manik-manik, beberapa watu lumpang, punden berundak dan menhir menunjukan bahwa wilayah Lumajang sudah dihuni oleh manusia prasejarah, walaupun sampai saat ini belum ditemukan fosil manusia purba. Pada masa selanjutnya yaitu masa Hindu-Budha Lumajang juga disebut-sebut dalam beberapa sumber sejarah yaitu dalam kitab Pararaton, Negarakertagama, Kidung Harsa Wijaya, Bujangga Manik, Serat Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Selain data tekstual di wilayah Lumajang juga ditemukan beberapa prasasti yaitu, prasasti Ranu Gembolo yang dibuat pada masa pemerintahan Kameswara raja Kadhiri, prasasti Pasrujambe. Prasasti Mula Malurung yang ditemukan di Kediri menyebutkan nama Lumajang dan juga disebutkan bahwa yang menjadi juru (pelindung) di Lamajang adalah Nararyya Kirana. Nararyya Kirana sendiri merupakan putra dari Nararyya Seminingrat (Wisnuwardhana) raja Singhasari. Prasasti ini berangka tahun 1177 Saka atau 1255 M, merupakan data tertulis tertua yang menyebutkan nama Lamajang. Prasasti Mula Malurung menjadi tonggak dasar penetapan hari jadi Kabupaten Lumajang.
Hasil bumi yang biasanya dibuat oleh-oleh dan banyak dijumpai di Lumajang seperti Pisang Agung, Buah Manecu, Kelapa Muda Lumajang juga sangat terkenal.
Bahkan Lumajang memiliki cadangan pasir besi terbesar dan terluas di Indonesia, yakni seluar 60.000 hektare. Jenis pasarnya pun terbaik di negeri ini. Adapun lokasinya terbentang di pesisir pantai selatan.

Saat penulis mengikuti perjalanan Religi masyarakat Hindu Bali dari Denpasar menuju Senduro (salah satu kecamatan di Lumajang yang berada di Kaki Gunung Semeru) dan di situ berdiri Pura Agung, mata tertarik pada salah satu Café yg bernama Goatzilla Farm & Café, yang didalamnya banyak kambing-kambing Peranakan Etawa (sekarang disebut kambing Senduro). Bahkan anak-anak kambing sengaja dilepas dengan tingkah pola kelucuannya, sehingga menjadi perhatian dan teman bermain bagi pengunjung yang membawa anak-anaknya. Suasana yang asri dan sejuk khas pegunungan cocok untuk rekreasi keluarga dan melepas penat.

Meskipun banyak kandang kambing, namun tidak ada rasa / bau yang menyengat, hal ini dikarenakan kebersihan kandangannya.
Saat memasuki Café “Kandang” Kambing tersebut, suasana sangat menyenangkan dengan banyaknya menu yang rata-rata hasil dari pengelolaan susu kambing dan susu sapi yang sangat melimpah di Senduro.

Ternyata di dalam café ini memiliki potensi yang luar biasa, banyangkan di dalam café di kaki semeru ini telah memproduksi Yogurt, Kefir, Sabun Susu, Masker Kefir, Keju Kambing “Chevre”, dan Keju Mozarella yang sangat lembut, bahkan lebih lembut dari merk yang biasa dipakai Pizza di Kota besar.

Café ini terletak di daerah Kandang Tepus Senduro, tepatnya arah menuju Gunung Bromo yang lebih dikenal dengan Puncak B-29. (Sas)

LEAVE A REPLY