Peluang Suatu Destinasi; Wawancara Imajiner Pelaku Bisnis Pariwisata Kita

63

Kali ini kita menelusuri satu situasi melalui suatu ‘wawancara imaginer’ dengan para praktisi di bidang pariwisata.

Dalam perjalanan kepariwisataan Indonesia yang pada hakekatnya berada di antara situasi kondisi ‘sederhana’ dan ‘modern’, bandara Makassar pun diperluas dengan modernitas yang dioperasikan sejak Agustus 2009. Menyusul setelah itu penerbangan internasional kembali lagi beroperasi, dimulai dari yang ‘jarak pendek’ Singapura-Makassar. Sebuah maskapai LCC menginisiasi rute tersebut, dengan harapan dan proyeksi, frekuensinya akan meningkat, dan rute-rute Makassar ke kota-kota lain di bagian tengah dan timur Indonesia akan semakin banyak dibuka.

Memang, maskapai penerbangan nasional di dalam negeri, juga satu demi satu menambah rute-rute penerbangan. Makassar semakin memperlihatkan perannya, selain sebagai bandara tujuan, sekaligus bandara transit untuk penerbangan domestik. Tetapi belum sampai setahun beroperasi, maskapai penerbangan pada rute Singapura-Makassar tersebut telah harus menghentikan operasi. Tentu saja pertimbangan utamanya ialah kenyataan secara komersial rute itu tidak menghasilkan jumlah penumpang yang mencukupi. Dapatlah diartikan, tak cukup wisatawan yang diperolehnya, baik dari Singapura maupun dari Makassar. Karenanya peluang ‘bisnis inbound’ dengan penerbangan langsung dari luar negeri pun sirna untuk sementara.

Mari kita telaah melalui wawancara imajiner dengan pengusaha tour and travel agent di Makassar.

     Tanya (T): Mengapa tampaknya Tour Operator (TO) atau Biro Perjalanan Wisata di Makassar tak mendukung pihak penerbangan yang telah berupaya membuka aksesibilitas pada rute Singapura-Makassar?

     Pengusaha: Kami tentu siap mendukung, tapi dalam arti kesiapan kami untuk menangani wisatawan yang dimasukkan ke sini oleh airlines atau tour operator asing. Kami siap dengan paket-paket tur, siap dengan itinerary untuk mengunjungi obyek wisata. Tapi pihak penerbangan yang tidak berhasil membawa wisatawan.

     T : Bukankah TO atau BPW perlu berinisiatif mendekati operator penerbangan untuk menyusun paket dan dipasarkan di Singapura, misalnya?

     P : Pendekatan seperti itu mestinya datang dari dua arah, dan bukan diharapkan dari pihak TO saja. Lagi pula, kalau menyusun paket produk rasanya tidak masalah, namun untuk mempromosikan dan memasarkan di Singapura, perlu biaya. Apakah pihak airlines mau melaksanakan?

     T : Paket produk wisata kan merupakan kombinasi dari transportasi, akomodasi, atraksi. Apakah tidak bisa unsur-unsur tersebut menggalang diri termasuk untuk membiayai bersama-sama promosi produk di pasar wisman, bila diperlukan?

     P : Wah, itu tampaknya masih susah ya diterapkan. Pihak hotel, misalnya, mempunyai strategi dan cara pemasaran sendiri-sendiri. Diukur dari skala bisnis, hotel-hotel di sini juga relatif tidak memiliki anggaran yang besar untuk pos A and P (advertising and promotion). Sebenarnya, untuk promosi, kami mengharapkan itu tugas pemerintah.

     T : Tapi bukankah pemerintah bertugas memasarkan destinasi, sedangkan promosi produk mestinya dilakukan oleh pelaku bisnis pariwisata ?

     P : Elemen-elemen itulah mestinya yang dikombinasikan. Tapi siapa yang mengambil langkah awal?

Wawancara imajiner ini dilanjutkan dengan Dirut maskapai penerbangan.

     T : Kalau sebuah airlines membuka rute baru dan dalam tempo kurang dari setahun, sudah menutup rute tersebut. Bagaimana sesungguhnya perencanaan dan perhitungan jangka panjang ketika dibuka pengoperasian di rute dimaksud?

     Dirut (D) : Proyeksi perhitungan bisa saja meleset dalam kenyataan, terutama jika para pemain di bidang pariwisata tidak memberi respon yang ‘aktif’. Untuk membuka rute, kami tentu mengeluarkan biaya mulai dari riset, persiapan teknis, operasional, personnel sampai peralatan dan seterusnya. Dalam konteks ini bisa berlaku the trade follow the ship. Industri pariwisata tak perlu lagi mengadakan riset dan berbagai kegiatan disebutkan tadi. Tinggal menggerakkan ‘inisiatif’ untuk menciptakan produk, lalu mengkomunikasikannya ke pasar.

     T : Para TO atau BPW kita umumnya justru kurang kemampuan memodali kegiatan komunikasi atau promosi ke pasar?

     D : Dari sudut pandang operator penerbangan, membuka suatu rute baru, katakanlah Makassar-Singapura, berarti mempunyai misi untuk menarik penumpang dari Makassar yang hendak ke mancanegara. We like it or not. Potensi utama yang diharapkan dari Indonesia adalah TKI dan wisata outbound, ini bahkan ibarat captive market yang sudah tersedia. Itu menjadi dasar dukungan komersial bagi operasi point to-point tersebut. Memang, tidak semua rute menjamin captive market ini sudah cukup. Maka, sebaliknya, pihak industri pariwisata kita di Indonesia, mestinya memanfaatkan rute ini dengan berupaya menarik wisman dari Singapura. Dan menjadi penumpang kami.

***

Dengan latar belakang wawancara praktisi bisnis di atas, kita mendekati konsultan dalam rangkaian wawancara imajiner ini.

     T : Apa dan siapa sebaiknya mengkoordinasikan unsur-unsur pelaku bisnis itu sehingga suatu destinasi seperti Makassar, tidak kehilangan tongkat dua kali seperti kehilangan penerbangan langsung Singapura-Makassar ?

     Konsultan (K) : Baiknya kita lihat substansi dulu. Kita harus tahu persis apa dan bagaimana desitinasi ingin dilihat dan digambarkan sebagai daerah tujuan wisata? Teoritis, dimaklumi, tanpa menentukan apa keunggulan kompetitif untuk perencanaan strategis, tidak akan dapat melaksanakan target pertumbuhan eksponensial. Kecuali jika kita memiliki gagasan yang jelas tentang apa posisi strategis di pasar, tidak akan ada jumlah pembangunan infrastruktur, pemasaran, dan promosi akan berhasil dalam jangka panjang. Kita perlu mencari tahu siapa kita, ingin menjadi dan apa posisi kompetitif kita. Dalam konteks destinasi Makassar, misalnya, pastikanlah apa yang layak jual. Di antara keanekaragaman yang unik, yang murni tradisional, adat dan tradisi yang eksotis, dan seterusnya?

     T : Tapi pertanyaan kembali lagi, siapa yang memulai langkah?

    K : Sekali lagi secara substansial, Public Sector—Private Sector haruslah dianut dan dijalankan. Mungkin semacam gugus tugas atau Task Force yang bersifat ad-hoc sekalipun, diperlukan di Makassar ketika airlines mengumumkan rencananya hendak membuka rute baru Makassar-Singapura. Gugus tugas itu diberi mandat dan berwenang untuk mendorong pengembangan pariwisata, khususnya mendukung airlines meng-generate pasar wisman di Singapura untuk ditarik ke Makassar.

     T : Kedengarannya ideal sekali. Tapi boleh jadi terobosan semacam itu akan berlaku juga untuk diterapkan di destinasi lain?

     K : Salah satu yang harus diakui ialah, setiap destinasi masih bisa dan perlu menciptakan‘branding and promotion way’ sendiri. Faktanya, di antara sekian banyak destinasi wisata kita, branding and promotion Bali sudah tertancap kukuh di pasar internasional. Jangan heran sampai kini pun, jika Anda di pinggir jalan di Los Angeles dan mengatakan Anda dari Indonesia, masih sangat mungkin Anda ditanya : Indonesia? Which part of Bali is it?

     T : Dalam konteks potensi Makassar menjadi hub port dan point of distribution pariwisata, seberapa besar peluang itu?

     K : Kita tentu maklum dan sadar, berbagai daerah ‘pilihan’ memiliki peluang yang boleh dikatakan sama besarnya untuk menjadi destinasi internasional. Pemerintah telah memutuskan lima bandara akan dibuka untuk open sky policy antar ASEAN. Berarti lima bandara itu akan terbuka bagi layanan penerbangan langsung dari dan ke kota-kota di ASEAN.

Ya, bersiaplah, agar the trade follow the ship.

                                                                       ****

Menyudahi rangkaian wawancara imajiner ini, baiklah diingat. Pariwisata inbound, sebagai industri jasa, sekaligus berfungsi ekspor yang menghasilkan devisa. Sebagai pariwisata nusantara, berfungsi menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat. Tapi kembali pada fungsi ekspor, kenyataan memang menunjukkan sebagian produk wisata Indonesia masih berposisi pada tahap ‘komoditi primer’. Belum terolah agar menghasilkan nilai tambah, dan, meningkatkan daya saing.

Mengutip profesional muda General Manager hotel di Yogya, Djulkarmain, majunya pariwisata Indonesia bisa terwujud dengan dimulai dari masing-masing daerah. Memajukan pariwisata dari daerah masing-masing terlebih dahulu. Ya, betul juga.***

 

LEAVE A REPLY