Mengenal Daratan Pertama Jawa Barat di Ciletuh-Palabuhanratu Geopark

110
Ciletuh-Palabuhanratu Geopark.(Foto:YD/Sumber:GIC)

Ciletuh-Palabuhanratu Geopark.(Foto:YD/Sumber:GIC)

Ahli geologi mengenal area di selatan Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi sebagai “Daratan Pertama di Jawa Barat”. Ciletuh adalah area patahan dan zona tumbuk antarlempeng benua, Indo-Australia dan Eurasia. Aktivitas saling tumbuk itu menyebabkan patahan-patahan. Sebagiannya terangkat hingga mencuat ke permukaan tanah.

Teluk Palabuhanratu dan sekitarnya, sekarang termasuk kawasan taman bumi (geopark) Ciletuh, merupakan zona subduksi, area pergeseran jalur magmatik purba dan evolusi muka busur bumi. Ciletuh sendiri terdiri dari patahan-patahan dan zona tumbuk mulai dari zona tumbuk pertama, terjadi 65 juta tahun lampau, hingga zona tumbuk baru. Aktivitas saling tumbuk antarlempeng benua di dalam perut bumi menyebabkan patahan-patahan. Sebagiannya terangkat hingga ada yang mencuat ke permukaan tanah.

Amphitheatre Ciletuh dari Puncak Dharma.(Foto:YD)

Amphitheatre Ciletuh dari Puncak Dharma.(Foto:YD)

Ketika aktivitas itu berlangsung di kedalaman dangkal getarannya merambat hingga ke permukaan dan menggoyang daratan tempat kita berpijak. Getaran tersebut bisa merambat sampai ratusan kilometer jauhnya dari pusat aktivitas. Masih ingat pada bulan Desember 2017 dan Januari 2018 Bandung dan Jakarta dikagetkan dengan gempa berintensitas kuat dan cukup lama? Dua pusat gempa itu berlainan tapi sama-sama berada di perairan selatan Jawa bagian barat, tidak jauh dari Teluk Palabuhanratu.

Menurut ahli geologi, bagian selatan Ciletuh-Palabuhanratu Geopark adalah “Daratan Pertama di Jawa Barat”. Di sana ditemukan formasi bebatuan tertua yang telah mengendap di dalam palung laut sangat dalam dan telah mengalami proses subduksi sejak zaman kapur lebih dari 65 juta tahun lampau.

Curug Cimarinjung di Ciletuh Geopark.(Foto:YD)

Curug Cimarinjung di Ciletuh Geopark.(Foto:YD)

Masih di bagian selatan. Dari Puncak Dharma kita bisa memandang mega amphitheatre dan dataran tinggi (plato) Jampang di tengahnya, menghadap ke Teluk Ciletuh. Amphitheatre itu terbentuk dari patahan-patahan yang runtuh kemudian longsor. Selain membentuk permukaan tanah berundak-undak proses itu pun menciptakan curug-curug (air terjun). Tumbukan-tumbukan baru yang mencuat ke permukaan tanah menjadi bebatuan baru dan hanya bisa ditumbuhi rumput membentuk savana.

Dahulu Ciletuh adalah gunung api purba. Jejaknya bisa kita lihat di bagian utara taman bumi ini. Kita bisa melihat pergeseran jalur magmatik dari selatan ke utara. Ini ditandai dengan aktivitas vulkanik aktif dan keberadaan geyser, sumber-sumber mata air panas dan endapan travertin. Salah satunya yang bisa dilihat dan dinikmati adalah geyser di Cisolok.

Geyser Cisolok mengeluarkan air panas bersuhu 30-40 derajat Celcius setiap saat. Airnya mengandung 26% sulfur. Jadi jauh di bawah permukaan bumi sana masih banyak lagi patahan-patahan yang dari celah-celahnya menghantarkan panas magma memanaskan lapisan air bawah tanah. Geyser Cisolok terhubung dengan kawah-kawah aktif di Gunung Halimun dan Gunung Salak. Karena tekanan dari dalam perut bumi maka air panas keluar dari celah-celah bebatuan di permukaan tanah.

View deck di Puncak Gebang,Ciletuh-Palabuhanratu Geopark.(Foto:YD)

View deck di Puncak Gebang,Ciletuh-Palabuhanratu Geopark.(Foto:YD)

Di taman bumi tentu ada formasi bebatuan unik. Kompleks batuan unik di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu Geopark berada di pesisir pantai. Mulai dari kompleks Pulau kunti, pantai Legonpandan hingga ke batununggal, batu batik, batu naga, dan pantai Cikepek. Di kawasan ini juga dapat melihat bebatuan berbentuk mirip kepala badak, kerbau, kodok, singa laut, buaya, naga dan komodo. Selain itu ada formasi batuan yang membentuk pagar dan motif batik. Bebatuan tersebut merupakan batuan sedimen pasir kuarsa berumur 56-33,9 juta tahun (umur Eosen) yang mengendap di laut hingga ke sungai. Kemudian mengalami pengangkatan hingga ke permukaan. Lalu mengalami pelapukan, erosi dan abrasi. Ahli geologi pun menemukan fosil kerang tertua numulitez yang berasal dari zaman Eosan.

Kawasan Ciletuh-Palabuhanratu Geopark melingkupi delapan kecamatan di sepanjang pesisir perairan Teluk Palabuhanratu. Mulai dari Kecamatan Cisolok sampai dengan Ciracap, Ujung Genteng.

Greeting dan briefing di Geopark Information Center sebelum mengeksplorasinya.Pusat informasi berada di depan pantai Citepus.(Foto:YD)

Greeting dan briefing di Geopark Information Center sebelum mengeksplorasinya.Pusat informasi berada di depan pantai Citepus.(Foto:YD)

Akses jalan raya baru bisa mengakses ke beberapa puncak dan curug. Medan jalan raya di beberapa titik sangat terjal sehingga pengunjung harus memperhatikan betul kondisi kendaraan yang hendak dipakai. Sebaiknya tidak menggunakan kendaraan jenis bis ke sini.

Sedangkan untuk melihat formasi bebatuan unik pengunjung mesti menumpang perahu nelayan dari pantai Cikadal, Desa Mandrajaya dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Palabuhanratu, Desa Ciwaru. Lama perjalanan melalui laut itu antara 20-30 menit. Namun perahu tidak bisa merapat sempurna karena hamparan batu dan karang.

Ke Palabuhanratu dari Jakarta jaraknya 136 kilometer sedangkan dari Bandung jaraknya 157 kilometer. Selain menggunakan kendaraan pribadi, taman bumi di Ciletuh bisa diakses dengan menumpang kereta api (KA) Pangrango dari Bogor. Pengunjung bisa berhenti di Stasiun Cibatu dilanjutkan dengan berkendara melalui Cikidang menuju Palabuhanratu hingga Ciletuh.

Pengunjung yang ingin tahu lebih banyak mengenai kebumian di sekitar Palabuhanratu bisa mendatangi Geopark Information Center (GIC) di kawasan pantai Citepus. GIC buka setiap hari mulai dari pukul 08.00-16.00 WIB. Ada 145 pemandu wisata siap mengantar dan menerangkan mengenai taman bumi Ciletuh. Di antaranya 11 orang bisa berbahasa Inggris dan 1 orang bisa berbahasa Jepang dan Korea.*** (Yun Damayanti)

LEAVE A REPLY