Dialog Terus Terang Demi Bisa Meningkatkan Kapasitas Penerbangan utk Capai 17 Jt Wisman

66

Lebih 40 orang peserta workshop, lebih separuhnya adalah wakil-wakil operator penerbangan yang melayani penerbangan internasional di Bali,—mereka tak beranjak dari tempat duduk sejak pukul 9 pagi hingga empat sore (kecuali jeda Ishoma 40 menit). Robert Waloni, moderator, membawa suasana dan “gairah” pada para operator penerbangan dan pejabat instansi pemerintah sebagai peserta itu, serius mendalami pembahasan atas tema utama hari itu, yakni : “Kolaborasi 3A (Authority/Airport, Airnav dan Airlines) dalam rangka mencapai 17 juta wisman tahun 2018”. Dilaksanakannya di Hotel Novotel Bandara Ngurah Rai, Bali.

Wakil-wakil operator penerbangan internasional yang beroperasi di Bali, maskapai nasional dan asing, diajak bicara hingga soal tekhnis dalam kerangka menambah seat capacity penerbangan luar negeri ke Bali. Di ujung workshsop, mereka mengisi data informasi tentang rencana yang ada pada masing-masing operator hingga saat ini, dan kapankah akan menambah frekuensi atau penerbangan baru. (Foto:AH)

Wakil-wakil operator penerbangan internasional yang beroperasi di Bali, maskapai nasional dan asing, diajak bicara hingga soal tekhnis dalam kerangka menambah seat capacity penerbangan luar negeri ke Bali. Di ujung workshsop, mereka mengisi data informasi tentang rencana yang ada pada masing-masing operator hingga saat ini, dan kapankah akan menambah frekuensi atau penerbangan baru. (Foto:AH)

Presentasi dan dialog memang langsung “menukik” pada masalah praktis, tekhnis dan realis. Yang bicara komplit dari unsur-unsur 3A Konektifitas (Authority/Airport, Airnav dan Airlines).

Sedemikian seriusnya mengurus penambahan penerbangan internasional ini, hingga Menteri Pariwisata sendiri Arief Yahya sejak awal tahun 2017 “bersedia” atau “mau” membawa petinggi Kemenpar melakukan road show berkeliling menemui para CEO maskapai penerbangan nasional di Jakarta ke kantor mereka masing-masing. Ada di antaranya yang sebaliknya datang mengunjungi dan berbicara dengan Menpar di kantornya. Road show mendatangi maskapai penerbangan nasional itu telah diulangi lagi awal 2018 ini.

Robert Waloni adalah Tenaga Ahli Menpar Bidang Konektifitas Udara, dan pembicara utama yang mengawali workshop ialah Yudi Rifajantoro, Staf Khusus Menpar Bidang Infrastruktur. Yudi menjelaskan dengan perhitungan serta strategi bagaimana hendak mencapai agar jumlah seat capacity penerbangan internasional di tahun 2018 ini bisa tercapai. Sebab, dengan itulah diyakini jumlah wuisman akan mencapai 17 juta. Selaku moderator Robert juga mendukung dengan uraian facts and figures dan empiris.

Robert Waloni misalnya antara lain dengan simpatik meminta pengertian berbagai pihak, agar dengan objektif dan terbuka memperbaiki situasi yang dihadapi bersama. Dia berterus terang pada para airlines internasional dan para pejabat dari Otoritas Bandara, AP I, dan Airnav ketika dia mencontohkan masalah adanya 11% dari slot time yang “unggulan”, disebut juga sebagai golden time slot, dalam keadaan diblokir oleh airlines yang tidak menggunakan secara efektif slot tersebut. (Ini  memang sudah diberitakan media beberapa waktu yang lalu.) Itu di bandara Ngurah Rai Bali. Di bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, disebut-sebut “unutilized golden slot time” itu mencapai 13%.

Golden time slot adalah jam-jam yang bagi airlines dinilai merupakan jadwal terbaik dari sudut komersial untuk tiba atau berangkat pesawat,  lazim berada di jam-jam pagi hari dan sore hari, dan itu yang umumnya diinginkan oleh airlines.

Robert meminta pengertian semua pihak agar menanggalkan bloking tersebut, dan agar diberikan atau disediakan bagi airlines yang berminat membuka rute baru atau menambah frekuensi penerbangan baru dengan menggunakan slot time tersebut.

Pada workshop ini hidup semangat dan kemauan semua pihak yaitu Otorita Bandara, PT AP I, Pengelola bandara Ngurah Rai, AirNav Indonesia, para operator airlines, bersama dengan Kemenpar dan lainnya untuk sungguh bisa merealisasikan  penambahan penerbangan internasisonal. Dengan kata lain, penambahan seat capacity untuk mengangkut wisman ke Bali, dengan tujuan agar target nasional 17 juta wisman tercapai tahun 2018 ini.

Salah satru cara yang sudah dan sedang ditempuh ialah meningkatkan kemampuan bandara untuk bisa menerima pendaratan dan pemberangkatan penerbangan lebih banyak per setiap jam, bisa menambah ruangan parkir bagi pesawat berbadan lebar dan berbadan sempit, dan beberapa bandara terdekat dengan Ngurah Rai hendak ditambah jam operasionalnya,  dan seterusnya. ***

LEAVE A REPLY