Cara Berwisata Orang Indonesia Berubah, Jumlah yg Ke Luar Negeri Diperkirakan 9 Juta Orang per Tahun

271

Cara dan gaya berwisata orang Indonesia sedang berubah. Wisatawan Indonesia semakin menyukai perjalanan kustom (customised) dan perginya dalam grup lebih kecil yang lebih intim. Peminat berwisata yang diatur dalam grup besar dan seri semakin berkurang. Diperkirakan, perjalanan series dalam grup besar menurun hingga 20% pada tahun lalu.

Elly Hutabarat, Ketua Umum Astindo, usai jumpa pers pembukaan Astindo Travel Fair 2018, Jumat (2/2) di Jakarta mengatakan, wisatawan Indonesia sekarang menginginkan customised travel. Lebih memilih perjalanan bersama keluarga atau kelompok pertemanan. Anggota per grup berkisar 10 sampai 20 orang.

“Orang Indonesia tidak suka lagi perjalanan dalam grup series yang besar. Ini  sudah terjadi sekitar 5 hingga 6 tahun belakangan ini,” ujar Elly.

Belum ada jumlah resmi total perjalanan outbound dari Indonesia. Namun diperkirakan, jumlah orang Indonesia yang berwisata keluar negeri antara 8 hingga 9 juta orang per tahun. Jumlah tersebut belum termasuk jumlah perjalanan wisata orang Indonesia ke Eropa yang relatif masih sedikit.

“Masih sulit menghitung jumlah outbound Indonesia,” tambah Elly.

Ada 50 sellers baru di TTC Travel Mart 2018 di Jakarta yang menawarkan destinasi dan pengalaman baru.Wisatawan Indonesia suka menjajal destinasi baru maupun yang sedang tren/viral.(Foto:YD))

Ada 50 sellers baru di TTC Travel Mart 2018 di Jakarta yang menawarkan destinasi dan pengalaman baru.Wisatawan Indonesia suka menjajal destinasi baru maupun yang sedang tren/viral.(Foto:YD)

Destinasi favorit di dalam negeri bagi wisatawan Indonesia: Bali masih bertahan berada di puncak, kemudian Derawan (Kalimantan Timur), Komodo (Nusa Tenggara Timur), dan Belitung (Bangka Belitung). Sedangkan destinasi wisata di luar negeri: Singapura masih berada di urutan pertama, kemudian Bangkok (Thailand)  diikuti Jepang dan Korea Selatan.

Tedjo Iskandar, founder TTC dan TTC Travel Mart (TTM), menyampaikan hal senada. Benar telah terjadi perubahan cara dan gaya berwisata orang Indonesia keluar negeri. Destinasi yang dikunjungi tidak hanya yang sudah menjadi mainstream tetapi bahkan sudah lebih jauh lagi.

“Ada kok wisatawan Indonesia yang sudah bepergian sampai ke Islandia,” kata Tedjo.

Selain itu, wisatawan muslim Indonesia mencari muslim-friendly travel. Fokusnya masih pada makanan yang tidak mengandung babi. Destinasi-destinasi yang menawarkan perjalanan muslim, selain perjalanan religi Umroh, pun terus dicari dan peminatnya terus bertambah.

Ramla dari 2F Tour, seorang pembeli di TTC Travel Mart 218 Jakarta, mengatakan, peminat perjalanan muslim-friendly banyak. Karena mencari makanan yang tidak mengandung babi masih cukup sulit saat berada di luar negeri jadi hal tersebut yang masih jadi concern bagi wisatawan Indonesia. Sedangkan restoran bersertifikat ‘Halal’ umumnya masih dianggap mahal.

Pameran wisata untuk mencari tiket dan paket perjalanan hemat diminati masyarakat Indonesia.Ini pada hari pertama Astindo Travel Fair 2018 di Jakarta.(Foto:YD)

Pameran wisata untuk mencari tiket dan paket perjalanan hemat diminati masyarakat Indonesia.Ini pada hari pertama Astindo Travel Fair 2018 di Jakarta.(Foto:YD)

Di Indonesia sekarang ini generasi milenial yang banyak berwisata. Mereka cari tiket murah, menggunakan aplikasi semacam Traveloka atau AirBnB, dan bisa berbahasa Inggris. Jadi yang mereka lakukan itu cenderung untuk berhemat. Kalau ikut tur series mungkin mereka hanya dapat 3 hari 2 malam dibandingkan kalau mereka mengatur sendiri perjalanannya di destinasi yang sama bisa dapat hingga 4 hari 3 malam.

“Makanya wisatawan Indonesia sekarang mulai tidak suka perjalanan yang diatur dalam grup series besar,” lanjut Tedjo.

Pada pembukaan Astindo Travel Fair 2018 di Jakarta Direktur Bank BCA Santoso membandingkannya begini: dahulu yang membeli tiket jauh-jauh hari hanya dilakukan oleh orang-orang tua yang sudah mapan untuk keperluan sekolah anak-anaknya ataupun untuk berwisata. Sekarang trennya berubah. Yang membeli tiket lebih awal adalah generasi muda. Mereka menjadikan traveling sebagai kebutuhan guna menyeimbangkan hidup.

Berplesir memang gaya hidup tetapi itu juga semakin menjadi kebutuhan. Itulah yang kini tengah melanda kalangan generasi muda dan masyarakat Indonesia dalam memandang dan memaknai berplesir. Tidak heran jika penjualan tiket pesawat terus meningkat di sini.

Traveling merupakan salah satu penggerak roda perekonomian,” tutur Santoso.*** (Yun Damayanti)

LEAVE A REPLY